oleh

Jacob Ereste: Menulis Sebagai Kesaksian Bahwa Kita Pun Pernah Hidup

-OPINI-415 views

BANTEN | Jika serius ingin jadi jurnalis harus banyak membaca agar bisa banyak menulis. Karena menulis itu — apapun jenis kelaminnya ; artikel, reportase, feutures apalagi investigatif reporting — kunci utamanya tetap harus banyak membaca apa saja, sehingga benar-benar pandai mulai dari teknik pengumpulan data hingga melakukan  dan melakukan identifikasi masalah hingga akhirnya gampang dan cepat menyusunan tulisan itu agar enak dan menariķ karena kelengkapan ìnfirmasi serta data yang disajikan.

Ajaran dari kitab suci pun mengatakan begitu. Iqra bismirab bikallazii khoĺaq… dan seterusnya. Bukan cuma bisa membaca al kitab itu, tapi juga semua yang terlihat dan tidak terlihat seperti gejala yang ada di luar al kitab.

Jadi membaca itu menjadi kunci untuk banyak hal yang berpautan dengan kerja jurnalistik atau tulis menulis yang tak mungkin habis selama gairah dan semangat untuk membaca tak pernah padam.

Dalam khazanah spiritual ada yang disebut bahasa bumi, bisikan angin, isyarat langit bahkan bahasa tubuh atau ayat-ayat diri dari diri kita sendiri yang acap kurang dihiraukan seperti unjuk rasa buruh yang meneriakkan tuntutannya.

Maka itu, ketika meliput aksi buruh misalnya, kita pun harus pandai membaca apa saja yang ada dibaĺik berita atau aksi yang diusung oleh kaum buruh itu yang sesungguhnya.

Boleh jadi aksi unjuk rasa buruh itu sekedar kamuflase saja untuk mengungkap hal yang lebih besar dari apa yang  ditampilkan itu sekarang.

Begitulah sekikas tentang sufut pandang atau anggel dalam perspektif sebuah tulisan, sehingga sudut pandang pemberitaan pun akan berbeda dan memiliki nilai lebih, meski obyek utama beritanya sama yang ditulis oleh jurnalis yang lain. Sehingga persaingan dalam pemuatan berita pun bisa lebih sehat dan lebih baìk untuk memperkaya pemahaman pembaca yang ingin memahami pemberitaan itu dari berbagai perspektif atau sudut pandang yang berbeda.

Kekayaan dalam pengertian literatur pun meĺiput kemampuan dan kepiawaian membaca juga. Khazanah dari kekayaan bahasa pun disebabkan oleh kegemaran mengembara di pustaka jagat yang tak berbatas dari bentuk kepustaan yang kònvensional belaka. Pengalaman empirik bersama petani dan nelayan bisa menjadi arsip yang bagus bila ditata sedemikian rupa hingga sebagian diantaranya bisa diingat di dalam kepala.

Maka dengan bekal bacaan yang cukup pun kesulitan menulis — apapun bentuknya yang dìinginkan — akan sangat mudah diwujudkan sebagai karya jurnalistik mapun artikel pribadi atau makalah ilmìah yang akademik sifatnya dengan kekayaan bacaan yang luas dan banyak.

Oleh karena itu, bagi mereka yang memiliki khazanah kepustakaan yang banyak tidak akan pernah kehabisan ide bahkan waktu. Karena dimensi waktu pun dalam konteks tulis menulis utamanya bagi pekerja pers atau jurnalis, terkadang menjadi faktor penentu yàng akan sangat menentukan nilai dari karya tulis tersebut.

Pada poloknya, untuk menjadi jurnalis yang handal dan tangguh dengan cara mempersakti diri membaca  sebangak-banyak mungkin dari pada banyak makan atau minum kopì.  Sebab hanya dengan banyak membaça kita pasti bisa banyak menulis. Dan dengan banyak menulis kita bisa  lebih banyak minum kopi.

Àrtinya, jangan pernah bermimpi bisa banyak menulis jika tidak banyak membaca.
Karena orang yang  bisa banyaķ menulis karena sudah bosan membaca. Dan orang yang suka membaca pasti terangsang untuk menulis. Bedanya, membaca itu hanya bermuara di kepala kita sendiri, tapi menulis itu muaranya bisa di kepala banyak orang lain.

Inilah kemuliaan seorang penulis. Karena, karena tidak cuma membaca karya orang lain saja, tapi juga membaca dan menikmati karya dan mencercapi hasil pemikirannya  seendiri. Jadi bisa lebih banyak dan terus menerus mengkoreksi diri. Misalnta, mengapa tulisan kita itu tidak disukai para pembaca.

Sebagai suplemen penambah gizi letakkanlah semangat menulis itu semacam kesaksian sekaligus untuk menandai bahwa kita pernah hidup dan senantiasa ingin berbuat baik untuk orang banyak. Karena sikap kita jelas dan tegas bepihak kepada siapa saja yang dizolimi dan mereka yang teraniaya. Sebab mereka perlu  bantuan dan pembelaan kita.

Banten Timur, 5 Desember 2021

* Paparan ini merupakan bagian dari sejumlah materi pelatihan Jurnalis Terpakai yang diselenggarakan Komunitas Buruh Indonesia (KBI) kerjasama Atlantika Institut Nusantara (AIN) dengan Jurnalis Banten Timur dan Tangerang di Tangerang, 5 Desember 2021.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *